Hari Kebangkitan Nasional, Para Guru Bantu Menciptakan Harapan untuk Sekolah

Menjelang 2 Mei 2007, persis sebelum Hari Pendidikan Nasional, seorang Guru Bantu Sekolah (GBS) yang berada di pinggir aliran sungai Citarum, Purwakarta, menilpon kantor Yayasan Nurani Dunia. Dengan suara tilpon terputus-putus, guru itu menyampaikan berita: “Pak Imam Prasodjo, saya ingin memberitahukan bahwa SD Negeri 02 Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, roboh. Hampir seluruh atapnya runtuh, dan hanya menyisakan satu lokal kelas.

Alhamdulillah, 285 muridnya selamat, karena sekolah roboh pada malam hari.” Belum pembicaraan selesai, suara tilpon terputus. Saat tilpon tersambung lagi, Pak Guru melanjutkan: “Namun di tengah berita duka ini, ada berita gembira Pak. Kami para guru, jumlah keseluruhan 76 orang, yang selama hampir 3 tahun kuliah, alhamdulillah telah berhasil tamat D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Kalau boleh, kami akan datang ke Jakarta , singgah di kantor Bapak untuk syukuran”. Belum juga pertanyaan dijawab, telpon pun terputus kembali dan tak tersambung lagi. Itulah awal mengapa pada Minggu 20 Mei 2007 ini, para guru berhimpun di Jalan Proklamasi 37, Jakarta , rumah Almarhumah Prof. Miriam Budiardjo, yang kini hanya ditinggali anak tunggalnya Gita dan menantunya Imam Prasodjo.

Di rumah ini, yang juga digunakan kantor Yayasan Nurani Dunia dan Yayasan Cahaya Guru, tak kurang 80 guru dari daerah terpencil berkumpul pada hari ini. Para guru ini rupanya telah bertekad lama untuk datang ke Jakarta , dengan urunan menyewa dua bis, berangkat dari tepi sungai Citarum, Purwakarta, menuju Jakarta . Niatan awalnya, sebenarnya hanya akan datang bersilaturahiem, bersalaman dengan para pengurus Yayasan Nurani Dunia dan Yayasan Cahaya Guru, kemudian berfoto bersama di depan Istana Negara dengan toga kebanggaan mereka, dan selanjutnya kembali pulang. Begitu saja, tanpa acara khusus. Namun, para pengurus Yayasan Nurani Dunia dan Yayasan Cahaya Guru rupanya memiliki gagasan lain. Bukankah 20 Mei 2007, saat para guru datang, tepat Hari Kebangkitan Nasional? Sadar atau tidak, bukankah para guru ini sebenarnya tengah menghembuskan semangat kebangkitan hakiki, yang kini harinya tengah kita diperingati? Para guru itu, walaupun selama hampir 3 tahun mereka hanya berbekal gaji Rp. 460.000 untuk hidup (alhamdulillah konon sekarang dinaikkan pemerintah menjadi Rp.710.000), mereka rajin menyisihkan sebagian gajinya untuk membayar biaya kuliah. Tentu, dengan uang yang sangat terbatas ini, mereka harus menerapkan manajemen keuangan paling modern yang tak pernah diajarkan dalam sekolah manajemen manapun di dunia.

Mereka betul-betul harus teliti berhemat. Hemat dalam membeli pakaian, hemat dalam bepergian, dan bahkan hemat dalam makanan. Pendeknya, demi kelanjutan kuliah, tidak hanya “hemat” yang harus diterapkan para guru ini, tetapi “paket super hemat.” Hari ini mereka datang di Jakarta , untuk bersyukur karena satu tahap keprihatinan dalam hidup mereka, yaitu mengajar sambil kuliah, telah berhasil diselesaikan. Berikutnya, insya Allah, dengan modal ijazah D2, tekad menjadi tenaga pendidik akan dilanjutkan. Di tengah keterpencilan dan kesederhanaan mereka di tepi sungai Citarum, bukti nyata hasil ketekunan dan kecerdasan, telah mereka tunjukkan. Para guru ini telah menunjukkan semangat kebangkitan sejati, dengan mentransformasikan hidup yang sering membawa keputus-asaan, menjadi hidup penuh harapan.

Di hari Kebangkitan Nasional yang kita peringati, para guru ini, benar-benar telah menciptakan harapan di tengah kesulitan hidup yang menghimpit mereka. Sementara banyak dari kita di kota , yang hidup gemerlap dengan kemewahan, tak henti memproduksi keluhan dan umpatan. Untuk semangat kebangkitan yang dicontohkan para guru inilah, Yayasan Nurani Dunia dan Yayasan Cahaya Guru ingin menyambut mereka. Dalam beberapa hari, upaya untuk menyambut kedatangan mereka menyebar ke beberapa kalangan. Gayung pun bersambut. Para guru dari daerah lain yang mendengar kehadiran mereka juga menyatakan ingin bergabung, karena mereka mengalami nasib yang sama.

Berapa individu yang peduli pendidikan, termasuk Rosiana Silalahi (wartawan televisi SCTV) bahkan ikut menyumbang dana untuk membeli konsumsi ala kadarnya. Kemudian, sebuah lembaga konsultan hukum, Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro (ABNR) Counsellor at Law ikut tergerak dan menghimpun uang hingga Rp. 114.300.000 untuk disumbangkan melalui Yayasan Nurani Dunia untuk membangun kembali SDN Negeri 02 Pasanggrahan yang roboh itu.

Saat mendengar acara ini, beberapa teman yang bekerja di Departemen Pendidikan Nasional secara informal juga ikut hadir guna memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan guru. Dan, yang tak diduga, pada sore hari, para guru diajak oleh para ahli hukum dari kantor ABNR untuk bersama-sama menonton film Nagabonar Jadi 2 di Planet Hollywood , Kartika Chandra. Film ini, sejak ditayangkan di Bioskop, selalu dibanjiri penonton karena selain ceriteranya sangat menghibur dan disajikan dengan guyonan selera tinggi, juga memiliki nilai-nilai pendidikan yang tinggi pula.

Lebih dari itu, agar para guru dapat berkenalan langsung dengan Sang Aktor Utama Nagabonar Jadi 2, Nurani Dunia mengundang Deddy Mizwar, untuk hadir dalam pertemuan ini. Deddy Mirwar pun hadir, dan selain menyempatkan berdialog dengan para guru, ia juga berfoto bersama para guru sebelum mereka berangkat menuju gedung bioskop. Dengan penuh semangat, dalam perjalanan ke gedung bioskop, para guru menyempatkan bererfoto bersama di depan Istana Negara sambil mengenakan toga wisuda kebanggaan mereka (Lihat foto).

Kita pun berharap, hari Kebangkitan Nasional ini diperingati dengan memunculkan para tokoh sederhana yang tanpa pamrih memberi contoh-contoh nilai-nilai keutamaan. Mungkin nilai-nilai keutamaan itu ada dan melekat pada para guru yang sederhana ini, atau mungkin pula, melekat pada tokoh film sebagaimana ditunjukkan dalam diri Nagabonar, Sang Jendral yang rendah hati itu. Semoga!